Archive for pasar kakao jatim

Mar
16

Kopi Tergeser Kakao

Posted by: | Comments (0)

SurabayaPost.co.id

Kopi Tergeser Kakao
Selasa, 15 Maret 2011 | 10:41 WIB

BANDARLAMPUNG – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Amiruddin Hamidi memperkirakan produksi kopi tahun ini turun hingga 50 persen lebih. Selain akibat cuaca tak menentu sehingga hasil panen kopi tak maksimal, banyak petani kopi yang beralih menanam kakao dan karet.

“Penyebabnya jelas yakni cuaca yang terhitung tak ada panas pada tahun 2010 sehingga tak ada buah untuk tahun ini. Dan itu terjadi hampir di semua tempat, tidak hanya di Lampung,” kata Amiruddin di Pulaupanggung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Senin (14/3).

Ia mengakui, saat ini harga kopi sedang tinggi sekitar Rp 16 ribu dan pekan lalu sempat Rp 17 ribu – Rp 18 ribu per kilogram, namun petani tidak memiliki simpanan lagi sehingga tidak bisa menikmatinya.

“Mau dibilang apa karena memang tidak ada panen. Harga tinggi pun tak berpengaruh,” kata dia.

Menyinggung upaya yang dilakukan, ia mengatakan semestinya pemerintah memberikan informasi jauh hari soal kondisi cuaca atau iklim.

“Pemerintah kan punya alat yang canggih untuk memprakirakan iklim. Semestinya disampaikan bahwa tahun depan tidak ada panas atau tidak ada hujan, sehingga kami bisa menyiasati,” ujarnya.

Hamidi pun menjelaskan, pihaknya telah memberikan informasi ke seluruh petani tentang paradigma “uang harus ke luar dari kebun”.

“Artinya, petani tidak hanya mengandalkan kopi dari kebunnya. Tetapi harus bisa memanfaatkan seperti menanam pisang atau pohon yang bisa diambil kayunya. Dan itu dilakukan tumpang sari,” ujarnya.

Terkait dengan maraknya petani yang menanam kakao di sela-sela tanaman kopi, ia pun mengaku sudah banyak dan kini mulai menutupi tanaman utama. “Mau diapakan karena dari kakao lebih menghasilkan bagi petani. Saat ini saja harga kakao Rp 22 ribu – Rp 24 ribu per kilogram,” katanya.

Ia menjelaskan, tiga tahun lalu sudah diinformasikan bahwa ada sebagian petani menanam kakao di sela tanaman kopi, dan kini tajuknya mulai menutupi tanaman kopi dan tak lama lagi akan ditebang untuk memberikan ruang bagi tanaman kakaonya. Selain kakao, lanjutnya, petani pun seperti di Kabupaten Waykanan sudah mengalihkan ke tanaman karet sehingga produksi kopi Lampung kian menurun.

Sebelumnya, Sekjen Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Rahim Kartabrata  mengungkapkan, tingginya harga ekspor kopi saat ini, selain cuaca yang tidak menentu, juga karena para spekulan yang mematok harga tinggi untuk produksi kopi di dalam negri. “Pasar banyak spekulasi, banyak yang masang harga lebih tinggi dari harga di luar negeri, para eksportir tidak berani beli,” kata Rahim, Minggu (13/3).

Menurut dia,  harga kopi dalam  negeri lebih tinggi dari harga luar negri, sebagai imbas untuk menyingkapi kenaikan harga kopi oleh para spekulan. Rahim mengatakan, harga kopi yang dijual di dalam negri pun terus berubah setiap harinya. Untuk kopi jenis robusta harga pasaran sekitar

Rp 18.000 – Rp 19.000 per kg, sedangkan untuk arabika harganya bisa mencapai Rp 50.000 lebih per kg. “Saya tidak bisa pastikan (harga kopi) karena setiap hari harganya berubah, ini masih pakai harga kemarin,” imbuhnya

Menurut ahim, kondisi daerah penghasil kopi di Sumatra seperti Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung terlalu banyak turun hujan, sehingga produksi kopi berkurang. Namun, hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, negara lain seperti Kolombia sebagai negara penghasil kopi terkena imbasnya.

“Kalau di Sumatra kebanyakan hujan, di Kolombia malah kepanasan,” katanya.

Dikatakan Rahim, kopi arabika dari Indonesia lebih mahal 30% dari kopi sejenis asal New York. “Kalau harga arabika dari New York itu sekitar 4 dollar AS (sekitar Rp 36 ribu) per kg nya, sedangkan kopi arabika dari Indonesia Rp 50 ribu tiap kilogramnya,” ujar Rahim.

Ia juga mengatakan kopi jenis arabika asal Indonesia memiliki kualitas yang lebih bagus dari arabika New York. “Arabika Indonesia itu termasuk arabika spesialty, kalau di New York itu arabika generik,” ungkapnya. ant, dtf

Categories : Berita Kakao
Comments (0)